cerpen tyas

PENULISAN KREATIF SASTRA ANAK (CERPEN)

 

SAHABAT  BARU

Pak  Akhmad sekelurga tinggal di kampung Cipancar. Letak kampung Cipancar tepat di kaki sebuah gunung yang cukup tinggi. Pak Akhmad sebenarnya berasal dari kota Yogyakarta dan ia pensiunan seorang guru disalah satu SMA di Yogyakarta. Pak Akhmad dan Bu Siti dikaruniai dua orang anak yang sulung laki- laki bernama Adi, bersekolah di SMP kelas satu dan adiknya perempuan bernama Rita, yang baru duduk di kelas 5 SD. Kedua kakak beradik tersebut hidup rukun tidak pernah berselisih. Mereka adalah keluarga sederhana.

Hari itu Adi sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumahnya. Adi berjalan sepanjang trotoar sambil sesekali menghentikan langkahnya sebab hari sangat panas .tak jauh dari tempat Adi duduk beberapa orang remaja sedang mengerumuni seorang remaja, kedengarannya anak-anak remaja yang hendak mengeroyok itu adalah anak berandal itu.

“Tampaknya anak tersebut itu sedang diperas oleh anak-anak berandal itu. Rupanya ia baru pulang sekolah .Coba akan kuperhatikan apa yang akan mereka lakukan terhadap anak tersebut ,”pikir Adi sambil terus memperhatikan kelakuan anak-anak itu.

Kuping Adi dipasang baik-baik untuk mendengarkan pembicaraan anak-anak yang bertengkar itu. Namun ia tak berani turut campur sebab belum mengetahui persoalan sebenarnya. Akan tetapi jika anak itu hendak dikeroyok, adi akan mencoba membantunya. Itu salah satu sikap Adi yang menonjol. Ia paling tidak suka jika melihat kebatilan terjadi di hadapannya. “Kalau nanti anak itu di keroyok baru aku akan turun tangan ! Walaupun ia anak yang belum dikenal tetapi sama-sama umat  Tuhan yang perlu diberi pertolongan ,”gumam Adi dalam hati.

Anak itu berkata-kata kepada anak anak-anak berandal yang sedang memerasnya.

“Hari ini aku benar-benar tidak punya uang sepe-rak pun. kalau kalian tidak percaya silakan periksa tas aku ini!” ujar anak itu sambil menyerahkan tas sekolahnya. Salah seorang anak tersebut memeriksa tas sekolahnya.

“ Sialan mengapa hari ini kamu tidak menyiksakan uang jajanmu untuk kami, heh?”seorang anak yang paling besar membentak dengan kasar.

“ Tadi pagi memang aku punya uang hanya kebetulan ada bencana alam di aceh.ku kira kalian mengetahui dari siaran di televisi,” kata anak itu.

“ Apa hubungan nya bencana alam di Aceh dan uang saku kamu?” Tanya salah seorang dari mereka.

Ketika anak berandal tersebut menyentakkan baju anak itu Adi tidak dapat menahan lagi perasaannya. Ia kemudian menghampiri mereka. “tunggu sebentar! Kalian jangan main keroyok seenaknya saja!”

 

“Siapa kau, heh? Mengapa mau mencampuri urusan kami?” Tanya ketuanya sambil menatap Adi dengan kesal.

“Aku bukan membela tetapi berusaha menengahi sebab berselisih itu tidak baik apalagi berkelahi! Manusia dilahirkan ke dunia untuk hidup damai bukan untuk berkelahi seperti kerbau atau ayam? “kata Adi.

“Kawan! Perbuatan seperti ini jangan di lanjutkan sebab tidak baik dan tercela! Cara yang di lakukan ini adalah pemerasan! Jika ku laporkan kepada yang berwajib kalian pasti di tangkap!” Adi mengingatkan anak-anak berandal tersebut agar menyadari kesalahannya. Kemudian Adi menatap kepergiannya sambil mengucapkan syukur kepada Allah.

“Alhamdulillah! Semoga mereka semua cepat sadar dari perbuatannya yang buruk ini, “kata Adi.

“Terima kasih atas pertolongannya!” ujar anak ini sambil menyodorkan tangan bersalaman dengan Adi.

“Adi!” ujar Adi memperkanalkan diri.

“Ari!” jawab anak tersebut sambil tersenyum. Mendengar namanya, Adi mengerutkan kening. Hatinya mulai bertanya-tanya mengapa anak yng tampaknya keturunan Tionghoa ini mirip kepada nama seorang muslim.

“Namanya Ari . . . mungkin ia seorang muslim ?”Pikir Adi dalam hati.

Adi yakin anak keturunan Tionghoa yang bernama Ari ini telah memeluk agama islam.

Setelah anak berandal tersebut tidak kelihatan lagi kedua anak remaja ini duduk di bawah pohon di pinggir jalan .

“ Engkau muslim ?”Tanya Adi kepada Ari. Ari menganggukkan kepala mengiakan.

“Alhamdulillah” kata  Adi

“Coba ceritakan sedikit mengenai keluargamu!”kata Adi.

“Baiklah ! Kami WNI keturunan Tionghoa tapi suda dua tahun memeluk agama islam. Namaku yang sebenarnya Hongliang. Akan tetapi , setelah masuk islam diganti menjadi Ari . Nama ayahku adalah Hancui dan diganti menjadi Pak Karim. Nama ibuku adalah Cunli lalu diganti menjadi Bu Halimah .Nah, kiranya cukup penjelaskanku ini,bukan?”kata Ari.

Tak lama kemudian mereka sudah tiba dirumah Ari. Sebelum masuk kerumah, Ari berkata kepada Adi. “insya Allah kita akan terus berteman! Mampirlah kalau pulang sekolah kemari siapa tahu kamu mau minum!” kata Ari sambil tersenyum.

“Terima kasih!” sahut Adi.

Pada hari minggu, Ari datang kerumah teman barunya, Adi. Mereka bisa cepat akrab sebab memiliki sifat yang tidak jauh berbeda.Selain itu keduanya termasuk anak yang rajin dan taat beribadah. Saat mereka sedang mengobrol Bu Siti dan Rita sedang memasak pindang ikan mas didapur. ”Aduh wanginya! Apakah ibumu sedang memasak pindang ikan?” Tanya Ari sambil menoleh kedapur.

“Benar! Tunggu dulu belum masak! Nanti kalau sudah masak kita makan bersama!” Kata Adi sambil tersenyum.

“rupanya ibumu pandai masak, ya?” Tanya Ari.

Tak berapa lama terdengarlah suara Bu Siti dari dapur. “Adi! Ari! Makan dulu umpung nasinya masih hangat! ”

“Ayo kita makan dul nanti ngobrolnya kita lanjutkan! “ Ajak Adi.

 

Lalu Bu Siti masuk kedapur. “eh, makannya sudah? Mungkin masakannya tidak enak ya? Maklum masakan orang kampong!” Ujar Bu Siti.

“Ah, ibu terlalu merendahkan diri! Baru kali ini saya makan lahap sekali! Pindang ikan mas buatan ibu luar biasa enaknya!” Puji Ari sambil tersenyum.

“Terimakasih atas pujiannya Nak Ari!” Kata Bu Siti.

Kemudian mereka duduk santai dibawah sebuah pohon jambu yang tumbuh dihalaman rumah Adi.” Apakah ibumu mau membuka usaha pindang ikan mas ?” tanya Ari kepada Adi.

“Entahlah! Hal ini harus kita tanyakan kepada Ibu. Mungkin saja Ibu bersedia mlakukannya” sahut Adi.

“Kamu tahu sendiri bukan ,Ibuku membuka restoran dikota .Restoran Ibu banyak sekali pengunjungnya. Selama ini aku belum melihat ada pindang ikan mas di restorannya. Jadi kalau ibumu mau memasukan pindang ikan mas sudah bias dipastikan akan laku,”kata Ari.

“Kalau begitu marilah kita bicarakan masalah ini dengan ibuku!” ucap Adi sambil  mengajak Ari menemui Ibunya.

“Bu, setelah saya tadi makan pindang ikan mas buatan Ibu,saya berpikiran kearah Usaha,“kata  Ari agak ragu.

“Ke arah usaha bagaimana ?”Tanya Bu Siti.

“Bagaimana kalau kepandaian Ibu dalam membuat pindang ikan mas ini dimanfaatkan untuk bekerja sama dengan Ibu saya? Jika ibu menjual pindang ikan mas di rstoran ibu saya pasti laku keras. Maksud saya Ibu hanya menitipkan makanan tersebut di restoran miik Ibu saya,”Kata Ari.

Mendengar ajakan usaha ini Bu Siti berfikir sebentar. Ia beruding dengan suaminya ,dan akhirnya suaminya pun mengijinkannya.

Esok harinya Bu Siti memulai usahanya dan menitipkan pindang ikan itu ke restoran milik Ibu Ari .

Baru sehari pindang itu di jual tapi sudah laku keras dan habis bersih. Bu Siti merasa senang dengan usahanya itu.

Setelah beberapa lama kemudian Bu Siti menitipkan pindang ikan mas itu ke Ibu Ari, akhirnya Bu siti merencanakan untuk membuka warung makan sendiri ,dan teryata warung itu membuahkan hasil baik. Akhirnya Bu Siti membuka restoran sendiri dan dengan hasil kerja kerasnya itu dia bias menjadi orang sukses.

“ Berkat kerjasama yang baik dengan Ari dan keluarganya akhirnya kita bisa seperti ini” kata Bu Siti.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: